Memuat Gerakan Indonesia Makmur
Gerakan Indonesia Makmur
Curah Gagasan

Kemenangan Historis Alternative für Deutschland (Seri 1)

Lukas BenevidesLukas Benevides
17 September 2026

Kemenangan historis Alternative für Deutschland (AfD) pada Pemilu Parlemen Negara Bagian Saxony-Anhalt hingga hampir 44% disambut meriah oleh mayoritas warga Jerman, tetapi membuat gusar para elit politik Jerman dan Eropa, termasuk para ilmuwan politik pro-demokrasi. AfD disebut sebagai partai populis kanan ekstrem (Bröning, September 2026). Banyak politisi dan ilmuwan politik memandang AfD berpretensi menghidupkan kembali neofasisme yang jelas bertentangan dengan identitas Jerman yang anti-fasisme pasca Perang Dunia II.

Tidak hanya dicap hitam oleh lawan politik dari partai lain dan ilmuwan politik konsultan partai-partai tersebut. Media kenamaan Jerman, Der Spiegel, edisi Agustus 2026, juga mendeskripsikan Ulrich Siegmund, pemimpin AfD yang baru berusia 35 tahun, sebagai orang paling berbahaya di Jerman.

Framing buruk terhadap AfD tersebut mendorong partai-partai ramai-ramai bermanuver untuk memblokade langkah politik AfD sejak 2017. Pola pemblokiran AfD lewat koalisi jumbo di parlemen dan pemerintahan tersebut lantas dijadikan strategi mutakhir oleh kalangan ilmuwan politik pro-demokrasi untuk membendung bangkitnya otoritarianisme inovatif di berbagai negara demokrasi maju seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat lain (Diamond, 2017; Levitsky & Ziblatt, 2018; 2023).

Namun, siapa sangka strategi yang sudah terlanjur populer direkomendasikan dan diduplikasikan para pendukung demokrasi tersebut ternyata blunder. Pengucilan terhadap partai dengan tendensi otoritarian, populis, utranasionalis seperti AfD justru memancing empati para pemilih, termasuk kalangan golput (disengaged) (Svolik et al., 2023). AfD dipandang sebagai korban permainan elit kekuasaan tanpa memainkan drama playing victim.

Pantas saja, berbagai tuduhan negatif tersebut tidak dapat membendung laju AfD. Pada Pemilu Parlemen Negara Bagian Baden-Württemberg sebelumnya (8 Maret 2026), AfD juga merangsek naik hampir dua kali lipat suaranya pada pemilu sebelumnya menjadi 18,8 (Bröning, March 2026). Dukungan terhadap AfD tampak seirama dengan dukungan rerata warga daratan Eropa terhadap partai dan politisi dengan kiblat populisme otoritarian (Svolik et al., 2023).

Namun bukan psikologi massa tersebut yang menjadi alasan utama. Pun bukan karena warga Jerman doyan otoritarianisme atau memahami demokrasi secara keliru (Boese-Schlosser et al., 2026). Banyak warga Jerman berbondong-bondong memilih AfD karena mereka muak dengan sistem politik Jerman yang tampak tidak memihak kepentingan mayoritas warganya dan mendobrak demokrasi representatif yang dikooptasi kartel-kartel elit partai-partai lama dan menawarkan demokrasi langsung yang lebih setia terhadap suara akar rumput (Kamenova, 2021; Höhne, 2023).

Mispersepsi atau propaganda politik

Label buruk terhadap AfD disebabkan oleh keberaniannya mengusung beberapa isu kontroversial. AfD menuntut “re-migrasi” terhadap imigran ilegal dan mengakhiri kebijakan iklim, hingga menurunkan bendera pelangi, meningkatkan penghormatan terhadap monumen peringatan perang Jerman, membatalkan pendanaan bagi media penyiaran publik negara, serta menempatkan Rusia sebagai salah satu mitra potensial (Bröning, September 2026).

Lantas partai yang baru dibangun pada 2013 ini dinilai sebagai partai populis kanan ekstrem hingga saat ini. Padahal AfD sudah banyak berubah. Pertama, sebelumnya AfD hanya ingin sendirian menguasai pemerintahan jika mendapatkan suara mayoritas, tetapi belakangan AfD sudah menyatakan membuka tangan untuk berkoalisi dengan partai lain seperti Bündnis Sahra Wagenknecht (BSW) atau Christlich Demokratische Union Deutschlands (CDU).

Kedua, secara ideologis sebelumnya AfD berjangkar populis kanan radikal, sekarang bendera AfD justru bergeser ke tengah (Bröning, September 2026). Lebih dari itu, pengamatan dekat menunjukkan AfD lebih demokratis, inklusif dan terdesentralisasi dibandingkan partai lain (Kamenova, 2021; Bloquet et al., 2022; Höhne, 2023; Heinze et al., 2024). Maka, label buruk terhadap AfD sebenarnya tidak lebih dari propaganda politik atau mispersepsi dan prasangka buruk lawan politik.

Referensi

Boese-Schlosser, V. A., Meißner, D., & Ziblatt, D. (2026). Voters’ orientations towards democracy: A new conceptual framework (Discussion Paper SP V 2026-701). WZB Berlin Social Science Center.

Bloquet, C., Borucki, I., & Höhne, B. (2022). Digitalization in candidate selection: Support and resistance within established political parties in Germany. Frontiers in Political Science, 4, Article 815513. https://doi.org/10.3389/fpos.2022.815513

Bröning, M. (2026, March). Will Germany’s firewall fall? Journal of Democracy. https://www.journalofdemocracy.org/online-exclusive/will-germanys-firewall-fall/

Bröning, M. (2026, September). The Alternative for Germany is triumphant. Journal of Democracy. https://www.journalofdemocracy.org/online-exclusive/the-alternative-for-germany-is-triumphant/

Diamond, L. (2017, November 21). Defending liberal democracy from the slide toward authoritarianism [Keynote speech]. European Democracy Conference, Bratislava. https://diamond-democracy.stanford.edu/speaking/speeches/defending-liberal-democracy-slide-toward-authoritarianism

Heinze, A.-S., Höhne, B., & Wortmann Callejón, F. (2024). What drives the intra-party democracy of the “Alternative for Germany”: Populist ideology, low institutionalisation or lack of party unity? Party Politics, 30(5), 795–807. https://doi.org/10.1177/13540688231183594

Höhne, B. (2023). How democracy works within a populist party: Candidate selection in the Alternative for Germany. Government and Opposition, 58(3), 478–496. https://doi.org/10.1017/gov.2021.33

Kamenova, V. (2021). Internal democracy in populist right parties: The process of party policy development in the Alternative for Germany. European Political Science Review, 13(4), 488–505. https://doi.org/10.1017/S1755773921000217

Levitsky, S., & Ziblatt, D. (2018). How democracies die: What history reveals about our future. Crown.

Levitsky, S., & Ziblatt, D. (2023). Tyranny of the minority: Why American democracy reached the breaking point. Crown.

Svolik, M. W., Avramovska, E., Lutz, J., & Milačić, F. (2023). In Europe, democracy erodes from the right. Journal of Democracy, 34(1), 5–20. https://doi.org/10.1353/jod.2023.0001

Wisma
Indonesia Makmur

Alamat

Jl. Sayangan No.5B, Mejing Wetan, Ambarketawang, Kec. Gamping, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta 55599

Email

kontak@indonesiamakmur.org

Pendaftaran Mandiri